blog-indonesia.com JAGA-PELIHARA-LESTARIKAN LINGKUNGAN HIDUP INI - BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA, TANAM TANAMAN PADA LAHAN KOSONG, MINIMALISIR PENGGUNAAN AIR BERSIH, KURANGI BERKENDARAAN blog-indonesia.com

Senin, 26 Oktober 2009

Ikan Air Tawar Terbesar


SEEKOR ikan pari raksasa jenis stingrayyang ditangkap di Thailand ini diklaim sebagai ikan air tawar terbesar. Betapa tidak, beratnya saja diperkirakan mencapai 450 kg atau hampir setengah ton. Lebar bentangan tubuhnya sekitar 2 meter dan panjang 2,1 meter. Saat ditemukan, ekornya tidak ada. Jika termasuk ekornya, diperkirakan total panjang ikan pari itu adalah sekitar 5 meter. Ikan tersebut ditangkap pada 28 Januari 2009 dalam sebuah ekspedisi yang dilakukan oleh National Geographic di Thailand. Penangkapan dipimpin ahli biologi dari Universitas Nevada, Zeb Hogan. Ekspedisi tersebut merupakan bagian dari proyek pencarian ikan raksasa Megafishes Project untuk mendokumentasikan 20 ikan air tawar terbesar di dunia.

Penemuan pari raksasa ini memberikan harapan baru bagi Hogan dan timnya bahkan melebihi perkiraan sebelumnya. Hal ini bisa menempatkan ikan pari raksasa di posisi teratas dari Megafishes Project. "Sejujurnya, kami tidak mengetahui berapa berat ikan pari ini. Tapi sudah jelas, ikan pari raksasa ini berpotensi menjadi ikan air bersih yang terberat," jelas Hogan yang juga seorang Emerging Explorer pada National Geographic.

Populasi ikan pari di Thailand dianggap sudah akan punah, meski penemuan beberapa populasi baru mulai meningkat belakangan ini. International Union for Conservation of Nature (IUCN) saat ini telah memasukkan ikan pari air tawar masuk ke dalam daftar hewan yang hampir punah. Sebelum penemuan pari raksasa terbesar ini, Hogan sebelumnya menemukan seekor ikan pari dengan panjang 14 kaki atau sekitar 4,3 meter di dekat di Chachoengsao, dekat kota Thailand.

C5-09
Sumber : National Geographic News

Jumat, 23 Oktober 2009

Tips and Triks Pemancing Galatama

Tip and Trick buat Pemancing Galatama

1.      Kenali Situasi dan Lokasi Pemancingannya
Banyak pemancing asal datang ke pemancingan galatama, tanpa ada perhitungan apapun alias sekedar mancing, hal ini pernah saya lakukan awal - awal ketertarikan saya di galatama. Nah akibatnya biaya belajar dan iseng tersebut menjadi besar, tanpa di sadari tentunya setelah sekian lama. Untuk itulah saya ingin berbagi pengalaman tentang hal tersebut.
Banyak orang, forum, milis mengatakan "mancing jangan dihitung biayanya yang penting FUN dan tidak stress saja", saya katakan sekali lagi hal ini tidak berlaku untuk "Mancing Ala Galatama", kenapa : ? Yah karena ini benar-benar proffesional fishing yang membutuhkan biaya besar, dan sifat kecanduan yang sangat tinggi sekali, karena mengasyikkan tentunya, kita bak raja sedang memancing, umpan disediakan, ikan ditangkap, kita hanya perlu membayar seorang caddy saja untuk semua itu.
Kalau kita hitung untuk pemancing dengan tingkat kecanduan yang tidak terlalu berat (contoh seminggu 3 kali mancing), setiap kali mancing uang yang dikeluarkan adalah : Tiket + Caddy + Umpan = Rp. 100.000 + Rp. 30.000 + Rp. 30.000 = Rp. 160.000,- (Seratus Enam Puluh Ribu Rupiah) x 3 = Rp. 480.000
Hampir 1/2 Juta (Bayangkan !! Itu hanya perhitungan Minimal saja)
Jadi sebaiknya kita benar-benar seriuslah untuk menghindari kekalahan beruntun yang membawa kita kepada stress finansial tentunya.
Dengan mengenali kolam pemancingan baik kondisi air (jalan/mati), kapan terakhir dikuras, cuaca, pola makan ikan, berapa banyak pemancing saat itu, durasi lomba, dll maka kita akan bisa mempersiapkan diri lebih matang untuk mencoba kans sebagai juara. Yang terpenting dari mengenali situasi kolam adalah kita dapat mempersiapkan umpan apa untuk lomba saat itu. Seperti kita ketahui bahwa ikan mas di suatu kolam berbeda pola makannya dengan kolam lain, jadi jika memang di lokasi tersebut lebih suka dengan umpan yang bersifat asam, maka jangan coba-coba memaksakan dengan umpan yang bersifat manis, atau amis (Perhatikan frekuensi strike per 10 menit).

2.      Target / Tujuan Kedatangan
Juara atau tidaknya seorang pemancing memang tidak bisa di duga, karena yang di hitung adalah ikan induk bukan ikan rame, tapiiiii harus diingat bahwa jika ikan rame saja tidak memakan umpan anda, jangan terlalu berharap banyak dengan MITOS bahwa ikan rame ga makan, ikan induk yang makan.... walaupun sifat dari ikan induk (ikan besar) adalah menyendiri dan menjauh dari kerumunan ikan rame (ikan kecil), tapi ketertarikannya akan aroma sama besarnya dengan ikan kecil, hanya karena bobot badannya yang besar maka dia kalah bersaing. Hal tersebut sangat amat jarang terjadi, jadi pastikan tujuan kedatangan anda ke lokasi pemancingan itu sebagai apa : Kandidat Juara, atau Peserta Penggembira saja. Apabila anda memilih peserta penggembira saja, anda tidak usah melanjutkan membaca artikel ini, dan tentunya anda benar-benar seorang yang ingin memancing untuk santai dan tidak sering-sering mancing di kolam galatama. Motto untuk mancing galatama harus VINI VIDI VICI, Datang Lihat, dan Menang .... Karena dengan Spirit yang Besar maka kans jg besar.

3.      Peralatan Mancing
Memang agak bersifat teknis, tapi jangan terlalu berserah kepada caddy saja, pengalaman saya membuktikan kadang kala kita harus bisa menggantikan posisi caddy pada saat terpaksa, hal ini saya rasakan ketika suatu lomba besar bertiket : Rp. 3.000.000,- ketika itu caddy saya suruh untuk membuat umpan baru, tiba-tiba strike terjadi dan ternyata ikannya ikan induk, posisi umpan persis di pinggir kolam sehingga mau tidak mau saya harus menyerok ikan sendiri, secara semua caddy tidak mau membantu (mungkin karena lomba besar, takut di marahin bossnya masing2), dan ternyataaa ,, ikan yang terpancing ikan Merah berukuran 10 kiloan, yang mengantarkan saya menjadi juara I dan C, pada saat itu. Intinya selain kemampuan kita sebagai pemancing untuk mandiri, juga persiapan kail yang banyak, backup tackle/joran, Reel, dll karena kita tidak akan tahu kapan kita membutuhkannya.

4.      Strike Induk
Ini adalah saat yang paling menegangkan pada mancing Galatama, induk mas, atau yang sering disebut BABON itu adalah kunci juaranya. Usahakan tenang pada saat menarik ikan babon, jangan tergesa-gesa, ingat bobot ikan babon itu sangat berat, dan belum tentu posisi strike pada rahang ikan, jika strike terjadi di bibir ikan, maka kemungkinan lolos sangat besar, tarik ikan dengan pelan tapi pasti, apabila ada perlawanan kendurkan drag pada reel, jangan malas berjalan ke lapak sebelah apabila ikan membawa lari umpan menjauh dari lapak, dengan permisi kiri kanan, anda pasti berhasil menaklukkan babon dengan selamat, dan anda jadi juaranya.

sumber : http://www.aromapancing.com

Kamis, 22 Oktober 2009

Ekstrak Ikan Gabus, Percepat Penyembuhan

Produk ekstrak ikan gabus berguna membantu meningkatkan kesehatan serta mempercepat kesembuhan dan pemulihan penderita: kekurangan albumin, protein, haemoglobin, zat besi, penyakit stroke, diabetes mellitus, kanker, lupus, parkinson, jantung, penyakit hati, ginjal, asma, pasca operasi, lanjut usia, dan lain-lain.

Gabus Selayang Pandang
Ikan gabus dikenal dengan beberapa nama lain, misalnya: haruan, kocolan, bogo, licingan, kutuk/ kotes (Jawa), common snakehead (Inggris), dan Ophiocephalus striatus (Latin). Ikan ini termasuk dalam golongan ordo Labyrinthici, dengan ciri khas pada kepalanya terdapat rongga-rongga guna menyimpan persediaan udara untuk pernafasan sehingga dapat hidup di air dengan kadar oksigen yang rendah. Bersifat karnivora, gabus adalah pemakan hewan-hewan lain yang lebih kecil seperti cacing, anak ikan, udang, ketam dll.

Bentuk ikan gabus kepalanya menyerupai ular, badannya hampir bulat, panjang, dan makin ke belakang makin menjadi gepeng, punggungnya cembung dan perutnya rata. Panjang tubuhnya dapat mencapai 100 cm, dan hidupnya di muara-muara sungai dan danau-danau.

Ikan Gabus Untuk Program Kemanusiaan
Adalah Florentinus Nurtitus, S.Si.T, seorang ahli gizi (dietician) di Rumah Sakit Elizabeth Semarang, yang berhasil memproduksi dan memasarkan ekstrak ikan gabus sebagai suplemen makanan tambahan bergizi tinggi di Kota Semarang. Meskipun bukan pionir untuk penemuan ini, namun tekadnya yang kuat untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi ikan patut diacungi jempol.

Awalnya Florentinus tidak berminat, namun dokter rekan sekerjanya terus mendesaknya untuk menemukan sejenis makanan tambahan dengan harga murah dan mudah didapat. Rekan kerjanya menegaskan bahwa makanan tambahan ini sangat penting untuk kemanusiaan. Sebagai contoh, ketika kadar albumin seseorang rendah dan memerlukan penanganan medis di rumah sakit, maka akan diperlukan sedikitnya 6 pak infus albumin dengan harga sekitar Rp. 1.500.000,dan ini dinilai memberatkan pasien. Bandingkan dengan produk serupa yaitu Sari Mina yang hanya Rp.55.000 perpak dengan kemasan 50cc,yang setara dengan 1 pak infus. Jika diperlukan 6 pak berarti hanya Rp. 330.000.

Fenomena ikan gabus bermula dari penelitian khusus oleh Prof Dr. In Eddy Suprayitno MS, Guru Besar Ilmu Biokimia Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya tahun 2003, dengan judul'Albumin Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) sebagai Makanan Fungsional Mengatasi Permasalahan Gizi Masa Depan". Penelitian tersebut membahas tentang gangguan sintesis albumin yang biasanya terjadi pada pengidap penyakit hati kronis, ginjal serta kekurangan gizi. Lebih lanjut, Dr. Eddy Suprayitno bekerjasama dengan dokter bedah digestif melakukan perbandingan antara Human Serum Albumin (HSA) yang harganya sangat mahal dengan Fish Albumin Ikan Gabus yang berharga jauh lebih murah. Terbukti suplemen ikan gabus dapat mempercepat penyembuhan luka hingga 30% (dari rerata 10 hari menjadi 7 hari).


Dalam penelitiannya, Dr. Eddy Suprayitno menjelaskan bahwa kandungan protein ikan gabus cukup tinggi bila dibandingkan ikan yang lain yaitu 25,2 g / 100 g daging ikan gabus segar. Ikan gabus juga mengandung 6,2 % albumin dan 0,001741% Zn dengan asam amino esensial yaitu treonin, valin, metionin, isoleusin, leusin, fenilalanin, lisin, histidin, dan arginin serta asam amino non esensial seperti asam aspartat, serin, asam glutamat, glisin, alanin, sistein, tiroksin, hidroksilisin, amonia, hidroksiprolin, dan prolin.

Penelitian manfaat ikan gabus untuk mempercepat perbaikan status gizi juga dilakukan oleh Dr.dr. Sri Adiningsih,MS,MCN, akademisi dari Universitas Airlangga dan Prof DR. dr Nurpudji A. Taslim, MPH, SpGK, ahli gizi dari Universitas Hasanudin. Untuk meningkatkan asas kepraktisan pengkonsumsian ikan gabus, Dr. Nurpudji bahkan telah mengembangkan supplemen tersebut dalam bentuk kapsul.

Sari Mina, Ekstrak Ikan Gabus Bentuk Cair
Sari Mina adalah produk olahan ikan gabus dalam bentuk ekstrak filtrasi beku yang telah diproduksi dengan sistem tertentu sehingga nilai gizinya sama dalam setiap kemasannya. Sari Mina dipasarkan dalam ukuran 50 cc/bungkus yang dikemas dalam kantung plastik dan disimpan dalam kondisi beku (< -10 derajat celcius) agar tahan lama dan dalam kondisi stabil (maksimal 3 bulan sejak diproduksi). Produk tersebut telah banyak digunakan pasien rawat inap maupun rawat jalan sejak awal tahun 2004 di RS Elisabeth Semarang.

Produk ekstrak gabus berguna membantu meningkatkan kesehatan serta mempercepat kesembuhan dan pemulihan penderita: kekurangan albumin, protein, haemoglobin, zat besi, penyakit stroke, diabetes mellitus, kanker, lupus, parkinson, jantung, penyakit hati, ginjal, asma, pasca operasi, lanjut usia, dan lain-lain.

Dosis yang dianjurkan untuk penyembuhan adalah 100 - 150cc per hari atau 2 - 3 bungkus (@ 50cc) per hari, dapat diminum langsung setelah ditiriskan dengan cara kemasan direndam dalam air hangat (tidak panas) pada waktu pagi dan sore, atau tergantung kebutuhan. Apabila Sari Mina digunakan untuk menjaga kondisi tubuh maka dosis bisa diatur antara 1-2 kali per hari saja atau cukup 1-2 bungkus (@ 50cc) per harinya. Menurut Florentinus, kandungan albumin 1 pak kemasan Sari Mina setara dengan 20 butir putih telur.

Filtrat Sari Mina bisa langsung diminum bagi pasien yang sadar atau bisa dicampurkan ke dalam makanan lewat pipa (sonde) bila kondisi pasien sangat lemah sehingga tidak mampu makan atau kesulitan menelan atau
dalam kondisi tidak sadar. Apabila albumin pasien di dalam darah terlalu rendah dan diinstruksikan oleh dokter untuk ditambahkan albumin melalui pembuluh darah/infus maka pemberian/konsumsi Sari Mina bisa dihentikan dahulu dan apabila pemberian albumin telah selesai maka pemberian/konsumsi Sari Mina bisa dilanjutkan. Pemberian Sari Mina bisa juga tetap dijalankan walaupun ditambahkan albumin melalui infus dengan mempertimbangkan asupan total protein yang masuk disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi serta penyakit.

Gabus Tangkap Kandungan Proteinnya Lebih Tinggi
Ikan gabus yang diolah oleh Florentinus bukan dari sembarang tempat, ia hanya mengambil ikan dari perairan Rawa Pening Semarang. Pertimbangannya karena airnya tenang, luas dan masih alamiah. Menurut Florentinus, ikan gabus yang hidup dengan karakter air seperti ini mempunyai kadar protein yang lebih tinggi dibanding tempat lain. Sementara menurut penelitian Prof Dr. Eddy Suprayitno, kandungan albumin ikan gabus air payau lebih tinggi, 4,76 % dibanding gabus air danau yaitu o,8 %. Selain itu, gabus jantan kadar albuminnya 6,7 %, lebih rendah dibanding betina yang mencapai 8,2 %.

Ikan gabus yang akan diolah sebaiknya berukuran 1 kg atau lebih, karena jika beratnya belum mencapai 1 kg maka dari segi produksi kurang optimal karena kadar protein yang dihasilkan dari ikan yang beratnya di bawah 1 kg lebih rendah. Kadar protein yang diperoleh dari 1 ekor gabus ukuran 1 kg, masih lebih tinggi daripada yang diperoleh dari 2 ekor ukuran 500 gram. Dalam satu kali produksi (biasanya 2 minggu sekali) dibutuhkan 70-100 kg ikan gabus, dan 1 kg ikan akan menghasilkan 170-200 cc ekstrak ikan gabus. Dalam melakukan proses produksinya, Florentinus dibantu oleh 6 orang pegawai.

Ketika awal-awal produksi, ekstrak gabusnya masih berbau sangat amis dan dikhawatirkan belum dapat diterima oleh setiap orang. Atas saran dari istrinya, maka Florentinus menambahkan esen aroma jeruk wangi pada ekstrak ikan gabusnya agar baunya tidak terlalu menyengat dan lebih dapat diterima oleh banyak orang.
Mengingat karakter ikan gabus yang cenderung cepat busuk dibanding dengan ikan lain karena kadar proteinnya yang sangat tinggi, maka ikan yang datang harus segera diolah. Permasalahan saat ini adalah ukuran pasokan ikan yang didapat seringkali kurang dari 1 kg. Namun Florentinus enggan mengambil gabus dari hasil budidaya atau gabus laut, karena gabus liar di perairan umum dinilai mempunyai kandungan protein paling tinggi.

Proses pembuatan ekstrak gabus Sari Mina :
  1. Cuci dan bersihkan.
  2. Sayat secara vertikal di sepanjang punggung dan seluruh badannya
  3. Kukus ikan hingga minyaknya keluar.
  4. Tampung minyak yang keluar dan takar sesuai ukuran
  5. Tuang ke dalam kemasan plastik dan masukkan kedalam mesin pembeku.

Sumber : Warta Pasar Ikan, Ditjen P2HP DKP, 2009

Mari Berbisnis Ikan Pindang

Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan bahan makanan lain. Bakteri dan perubahan kimiawi pada ikan mati menyebabkan pembusukan. Sehingga dengan sifat ikan yang mudah rusak maka perlu adanya pengolahan lebih lanjut untuk mempertahankan daya simpan ikan. Salah satu cara mudah untuk mempertahankan daya simpan ikan adalah dengan pemindangan. Pemindangan merupakan salah satu olahan tradisional ikan yang sangat populer di Indonesia

Pemindangan ikan adalah hasil olahan ikan dengan cara kombinasi perebusan/pemasakan dan penggaraman. Pindang mempunyai penampakan, citarasa, tekstur dan keawetan yang khas dan bervariasi sesuai dengan jenis ikan, kadar garam, dan lama perebusan. Jenis-jenis ikan yang umum diolah dengan cara pemindangan cakalang, tongkol, kembung, bandeng, cucut, bawal, layang, tanjan, tawes, gurami, dan lain-lain.jenis ikan pelagis seperti layang, selar, japu, tembang, lemuru, kembung, tuna, dan lain-lain. Selain itu juga jenis ikan lain seperti cucut dan petek di beberapa tempat.
Ikan yang digunakan sebagai bahan baku ikan pindang sebaiknya ikan yang masih segar. Ikan pindang yang dihasilkan dari ikan yang kurang segar mempunyai penampakan jelek (karena daging hancur selama perebusan) dan rasa yang terlalu asin (karena penetrasi garam akan berlangsung lebih cepat).

Pindang umumnya tidak terlalu awet karena masih mempunyai aktivitas air yang relatif tinggi dan sesuai bagi pertumbuhan mikroorganisme, terutama bakteri pembentuk lendir dan kapang. Pemanasan yang diberikan pada umumnya tidak terlalu mampu membasmi semua mikroorganisme. Selama penyebaran dan penjualan,Pindang sangat mudah mengalami kontaminasi mikroorganisme. Kerusakan pindang yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme ditandai dengan pembentukan lendir, pertumbuhan kapang, dan teksturnya yang menjadi hancur. Daya awet ikan pindang tidak terlalu lama.

Pindang naya hanya tahan kira-kira 3-4 hari, sedangkan pindang paso hanya tahan kira-kira 6-7 hari setelah tutup wadah dibuka. Karena rasanya yang tidak asin, pindang mempunyai kedudukan yang sangat strategis terutama dalam memenuhi kebutuhan protein hewani bagi sebagian penduduk Indonesia, disamping dapat menunjang peningkatan penghasilan nelayan tradisional.

Produsen terbesar pindang ikan (68,43 persen) adalah di Jawa; 15,34 persen di Sumatera; 12,25 persen di Bali dan Nusa Tenggara; 3,39 persen di Sulawesi, dan 0,04 persen di Kalimantan. Beberapa contoh pindang yang cukup terkenal adalah pindang pekalongan, pindang kudus, pindang juwana, pindang tuban, dan pindang muncar.

Ikan pindang mungkin bukan sesuatu yang istimewa, namun merupakan salah satu alternatif sumber gizi masyarakat yang digemari. Selain bergizi, harganya pun terjangkau. Tidak heran, banyak orang berminat berjualan ikan pindang sebagai sumber pendapatan mereka. Ikan pindang yang mudah diperoleh di pasar-pasar, menyimpan protein tinggi. Selain itu, terdapat pelbagai unsur mineral dan vitamin A. Unsur lainnya adalah asam lemak omega-3, yang sangat bermanfaat untuk menangkal pelbagai penyakit degeneratif.

Dibanding pengolahan ikan asin, pemindangan mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:
  1. Cara pengolahannya sederhana dan tidak memerlukan alat yang mahal,
  2. Hasilnya berupa produk matang yang dapat langsung dimakan tanpa perlu dimasak terlebih dahulu,
  3. Rasanya cocok dengan selera masyarakat Indonesia pada umumnya,
  4. Dapat dimakan dalam jumlah yang relatif banyak, sehingga sumbangan proteinnya cukup besar bagi perbaikan gizi masyarakat.
Cara pengolahan pindang sangatlah sederhana, berikut ini pengolahan pindang dengan dua cara yaitu pindang basah dan kering:

Bahan : semua ikan sisik dan garam (konsentrasi 15-30)%
A. Pindang Basah
Cara kerja:
1. Ikan disiangi (dibersihkan sisik dan kotorannya)
2. Ikan selanjutnya direbus dalam larutan garam 15-30% selama 10 – 30 menit
3. Ikan ditiriskan dan siap disajikan atau diproses selanjutnya.

B. Pindang Kering :
Cara kerja:
1. Ikan disiangi (dibersihkan sisik dan kotorannya)
2. Ikan disusun berselang seling dengan garam (secukupnya) dalam naya (keranjang bambu)
3. Kemudian direbus dalam kwali tanah selama 30 – 60 menit air yang keluar dihilangkan.
4. Ulangi langkah tersebut (no.3) sekali lagi tanpa air.
5. Ikan pindang kering siap disajikan atau diproses lebih lanjut.

sumber : http://bisnisukm.com

Masyarakat Majingklak Undang Pemancing Berpesta


Manfaat kehadiran pemancing di daerahnya sangat dirasakan warga desa kecil Majingklak di Jawa Barat sebagai sebuah berkah yang patut di syukuri. Oleh karenanya dalam waktu dekat ini warga Majingklak berniat menggelar acara silaturahmi bersama antara warga dan para pemancing.
Dalam acara kumpul-kumpul antara pemancing dan warga itu rencananya akan diisi acara temu bersama untuk saling mengakrabkan diri, lalu dilanjutkan dengan kegiatan mancing bersama baik di sungai, muara dan laut. Acara yang rencananya dikemas santai dan fun ini bertujuan dalam rangka sebagai ajang sharing sebab para warga berniat dalam waktu mendatang mereka mampu dan pede jika misalnya suatu saat digelar turnamen mancing yang cukup besar di daerahnya. Waktu penyelenggaraan kegiatan akan dilaksanakan pada waktu yang tepat yakni pada saat musim ikan sekitar awal bulan September sampai Oktober. “Dijamin pemancing akan pesta strike!” ujarnya.
Keterangan mengenai kegiatan ini disampaikan oleh pemancing Bandung yang sering sekali melakukan trip ke Majingklak yakni B. Kusyaman. “Mereka ingin daerahnya semakin ramai didatangi pemancing dan berharap suatu saat dapat menjadi tempat penyelenggaraan turnamen mancing,” kata B. Kusyaman. Menurutnya seluruh warga dan para pemuda di sana akan siap membantu suksesnya acara tersebut. Semoga pemerintah daerah mendengar aspirasi dari Majingklak ini.(MR)
Sumber : http://www.mancingonline.com

Rabu, 07 Oktober 2009

Operasi Narkoba di Pemancingan Umum

indosiar.com, Jakarta Selatan - Razia narkoba yang dipimpin langsung Kanit Resintel Polsek Metro Pancoran IPDA Sainan Lobis ini, berlangsung di sejumlah tempat yang dilaporkan warga sering terjadi transaksi narkoba di kawasan Pangadegan, Pancoran Jakarta Selatan.

Sasaran pertama adalah sebuah tempat pemancingan umum di kawasan Pangadegan Timur. Di tempat ini warga sekitar sering mengeluhkan adanya transaksi narkoba yang terjadi secara terang-terangan. Dari informasi warga inilah petugas memburu seorang berinisial YTO alias Bangke yang diduga kuat sebagai pengedar putaw di kawasan ini. Saat ditangkap petugas YTO dan rekannya JR terlihat gelagapan, namun barang bukti narkoba tidak ditemukan petugas.

Upaya petugas untuk mencari barang bukti terus dilakukan dengan memeriksa satu persatu para pemancing yang ada di kawasan tersebut.

Operasi lalu di arahkan petugas ke rumah tersangka YTO di kawasan Pangadegan Selatan, dirumah ini, petugas memeriksa satu persatu tempat dan barang-barang yang dicurigai terdapat narkoba. Setelah diperiksa selama dua jam barang bukti narkoba atau sejenis nya tetap tidak ditemukan. Kuat dugaan barang bukti narkoba telah habis terjual sebelum polisi datang, petugas hanya menemukan bungkus plastik yang diduga kuat bekas meracik putaw.

Kapolsek Metro Pancoran Komisaris Polisi Sri Hastuti menyatakan, pihaknya akan tetap melakukan operasi serupa, walau pada operasi kali ini tidak mendapatkan barang bukti.(Yadi Supyandi dan Agung Nugroho/Idh)

Kamis, 01 Oktober 2009

Pasar Ikan Parung, Surga Penghobi Ikan Hias



Liputan6.com, Bogor: Tawar-menawar antara pembeli dan penjual setiap hari mewarnai Pasar Ikan Parung. Pasar seluas kurang lebih 800 meter persegi di kawasan Parung, Bogor, Jawa Barat, memang dikenal sebagai pusat perdagangan ikan hias. Beragam ikan ditawarkan seperti koki, arwana, blackghost, dan banyak lagi. Pehobi ikan hias di sekitar Jakarta pun kerap berburu di pasar ini.

Walau dikenal sebagai pasar ikan hias, tempat ini juga menjual jenis-jenis ikan konsumsi seperti lele, mujair, gabus, hingga lobster. Sebagian ikan-ikan tersebut ditempatkan pada kolam buatan berbentuk kotak-kotak kecil atau kantong-kantong plastik. Pembeli tinggal memilih ikan yang dicarinya.

Soal harga, berlaku tawar-menawar seperti pasar tradisional pada umumnya. Jadi pandai-pandailah menawar agar tak membeli dengan harga mahal. Sekadar panduan, para pedagang biasanya menawarkan harga 25 hingga 50 persen di atas modal. Sekantong ikan red pinsa isi 10 ekor misalnya dijual Rp 15.000 sedang sekantong ikan lemonsie isi 25 ditawarkan dengan harga Rp 25 ribu. Transaksi berlangsung relatif cepat. Sekali memutuskan tidak membeli, beberapa menit kemudian ikan sudah berpindah tangan ke peminat lain.

Pembeli juga bisa menemukan tanaman air untuk pemanis akuarium serta anakan kura-kura Brasil maupun penyu di pasar ini. Bila berminat mencari ikan hias dengan harga miring, Pasar Ikan Parung jawabannya. Namun perlu diketahui pasar ini hanya buka tiap Senin, Rabu, dan Jumat mulai pukul 04.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB. Gunakan juga sepatu boot karena pasar ikan ini becek.

Selain ikan, akuarium juga pantas menjadi perhatian. Belakangan ada trend baru untuk mengisi akuarium yaitu aquascape. Teknik ini mengisi akuarium dengan berbagai jenis tanaman air seolah memindahkan hutan tropis lewat media akuarium. Berbagai jenis pohon dapat diselaraskan dengan akuarium yang disesuaikan dengan jenis keinginan serta kemampuan keuangan.

Bagi para pemula mungkin dapat memilih pohon-pohon yang cukup hijau dan rimbun namun tak perlu mahal. Asal selalu memperhatikan suhu air antara 25-27 derajat Celsius serta jenis ikan dan harus memiliki media pasir selica sehingga habitat pohon tak mudah rusak. Pepohonan itu memerlukan karbondioksida dari alat khusus, cahaya ultra violet lewat lampu, dan pupuk cair. Harga tanaman hias di pasaran berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 2 juta. Namun apabila mengetahui jenisnya cukup mencari di daratan bahkan ke pegunungan.

Model akuarium pepohonan ini sudah hampir sepuluh tahun ditemukan peneliti Belanda ketika berkunjung di hutan tropis. Di Indonesia sendiri baru populer beberapa tahun belakangan ini karena biaya pemeliharaan yang mahal. Untuk akuarium berukuran besar harus merogoh kocek sedikitnya 10 jutaan dan tanamannya sendiri dijual Rp 5 juta per meter.

Aksesoris perlengkapan akuarium menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari akuarium. Aksesoris akan menambah keindahan akuarium. Bentuk aksesoris ini memang bermacam-macam sesuai dengan selera pecinta ikas hias seperti kulit kerang, batu-batuan, pasir, hingga tumbuh-tumbuhan baik yang asli maupun yang plastik. Bisa juga dihias dengan relief.

Berbagai aksesoris akuarium sebenarnya tak hanya berfungsi untuk hiasan. Pernak-pernik akuarium seperti batu karang misalnya bisa menjadi tempat ikan berlindung. Apalagi pada akuarium yang luas dan terdiri dari beberapa jenis ikan. Tentu saja berbagai hiasan ini harus disesuaikan dengan jenis ikan yang dipelihara. Selain itu perawatan harus rutin dilakukan agar keindahan tetap terjaga.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)

Ikan Belida

Lopis/belida


Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Actinopterygii
Ordo:
Osteoglossiformes
Famili:
Notopteridae
Genus:
Chitala
Spesies:
C. lopis
Nama binomial
Chitala lopis
(Bleeker, 1851)
Sinonim
Notopterus chitala H.B.
Ikan lopis, belida, atau pipih merupakan jenis ikan sungai yang tergolong dalam suku Notopteridae (ikan berpunggung pisau). Jenis ini dapat ditemui di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Semenanjung Malaya.  Meskipun sekarang sudah sulit ditangkap karena rusaknya mutu sungai dan penangkapan. Ikan ini merupakan bahan baku untuk sejenis kerupuk khas dari Palembang yang dikenal sebagai Kemplang. Dulu lopis juga dipakai untuk pembuatan Pempek namun sekarang diganti dengan Tenggiri. Tampilannya yang unik juga membuatnya dipelihara di akuarium sebagai ikan hias.
Karena berpotensi ekonomi dan terancam punah, lembaga penelitian berusaha menyusun teknologi budidayanya. Hingga 2005, Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin, di Kalimantan Selatan telah mencoba membudidayakan, menangkarkan serta memperbanyak benih ikan belida.

Latar Belakang

Daging ikan belida termasuk enak, sehingga di kalangan masyarakat Sumatera Selatan dagingnya memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sejak dahulu, daging ikan Belida terkenal untuk bahan makanan khas masyarakat Palembang terutama kerupuk, pempek Palembang dan sebagainya. Bila dilihat penyebar­annya dan populasi ikan Belida yang cukup tinggi, maka hal ini merupakan langkah pemerintah dalam mengantisipasi keberadaannya dari pemanfaatan yang berlebihan melalui penetapan identitas atau maskot fauna daerah.

Pertelaan

Bentuk badan ikan belida adalah pipih dan kepala kecil. Bentuk kepala dekat punggung cekung. Bungkuk di bagian tungkuk, sisik kecil-kecil. Rahang sema­kin panjang sesuai dengan meningkatnya umur sampai jauh melampaui batas belakang mata. Sisik pada'penutup insang pertama terdapat 20 - 22 baris. Ber­warna agak kelabu di bagian punggung, dan agak putih keperakan dibagian perut. Pola warna bervariasi sesuai dengan fasenya. Panjang maksimum kurang lebih 875 mm dan berat tubuh dapat mencapai 15 kg. Walaupun ukurannya lebih besar, namun tak urung juga digemari orang sebagai ikan hias akuarium air tawar. Sisi badannya dihias deretan bola hitam yang masing-masing dikelilingi lingkaran putih seperti jendela kapal laut. Kalau sudah dewasa, gambaran tubuh itu hilang dengan sendirinya, diganti dengan sejumlah garis seperti sabuk hitam. Mulut ikan belida luar biasa lebarnya, kalau dibandingkan dengan kecilnya kepala. Itu berkaitan dengan caranya makan sebagai ikan pemakan daging, yaitu menyikat (menyambar) dan mencaplok mangsa yang berhasil diburu dan dipojokkan.

Ciri Lainnya


Berukuran sedang, panjang maksimum 100 cm dan berat rata-rata 0,5-1 kg, di alam asli bisa mencapai 2 - 4 Kg. Bentuk badannya pipih dengan kepala yang berukuran kecil dan di bagian tengkuknya terlihat bungkuk. Rahang atas letaknya jauh di belakang mata. Badan tertutup oleh sisik yang berukuran kecil. Sisik di bagian punggungnya berwarna kelabu sedangkan di bagian perutnya putih keperakan. Pada bagian sisinya terdapat lingkaran putih seperti bola-bola hitam yang masing-masing dikelilingi lingkaran putih. Dengan bertambahnya umur hiasan tubuh ikan belida akan hilang dengan sendirinya dan diganti oleh garis-garis kehitaman, sistem reproduksi ikan ini dengan bertelur. Merupakan ikan air tawar yang bersifat predator atau pemangsa dan nokturnal (aktif pada malam hari). Pada siang hari biasanya bersembunyi diantara vegetasi. Makanannya berupa anak-anak ikan dan udang. Tak jarang mangsanya berukuran lebih besar. Ikan belida jantan bertugas membuat sarang yang dibuatnya dari ranting dan daun, juga menjaga telur dan anak-anaknya. Ikan belida dapat menghirup udara dari atmosfir. Ikan karnivora ini hidup di kedalaman 2-3 meter di tempat-tempat gelap. Saat air sungai meluap, mereka naik ke rawa-rawa untuk kawin dan melepas telurnya di sana.

Habitat


Hidup di air tawar terutama di daerah banjir (Lebak Lebug) dan sungai. Dapat berkembang pada tempat-tempat kurang dari 30 motor dari permukaan laut. Di Indonesia sebarannya meliputi Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Di Sumatera Selatan khususnya di daerah Ogan Komering llir, Ogan Komering Ulu, Muara Enim, Musi Banyuasin, Musi Rawas, Kodya Palembang dan sebagian kecil daerah Kabupaten Lahat.

Makanan

Ikan belida bersifat predator (pemangsa), makanannya terdiri dari anak-anak ikan dan udang.

Perkembangbiakan

Berkembangbiak secara alami di perairan umum menjelang air besar (awal musim penghujan), telur diletakan pada tonggak-tonggak yang kuat pada ke­dalaman 1 - 2 meter. Sarang dibuat oleh ikan jantan dari ranting dan daun, ikan tersebut juga menjaga telur dan anak-anaknya.

Pemerian dan penangkaran benih

Ikan pemangsa ikan kecil dan Krustasea berukuran 1,5-7kg (dewasa), dengan ciri khas ikan berpunggung pisau: punggungnya meninggi sehingga bagian perut tampak lebar dan pipih. Lopis dicirikan melalui sirip duburnya yang menyambung dengan sirip ekor berawal tepat di belakang sirip perut yang dihubungkan dengan sisik-sisik kecil. Bentuk kepala dekat punggung cekung dan rahangnya semakin panjang sesuai dengan meningkatnya umur sampai jauh melampaui batas bagian belakang mata pada ikan yang sudah besar. Betina memiliki sirip perut relatif pendek dan tidak menutup bagian urogenital, alat kelamin berbentuk bulat. Ketika birahi (matang gonad) bagian perut membesar dan kelamin memerah. Jantan memiliki sirip perut lebih panjang dan menutup bagian urogenital, alat kelamin berbentuk tabung, ukuran lebih kecil daripada betina. Jika jantan siap pijah alat kelamin memerah dan mengeluarkan cairan putih (cairan sperma) jika ditekan/diurut. Telur biasanya diletakkan di batang terendam pada kedalaman hingga 1m. Dalam rekayasa penangkaran, batang bambu atau papan dipakai sebagai tempat penempelan telur. Pemijahan dilakukan pada musim penghujan (di BBAT Agustus hingga Maret). Dalam sekali pemijahan, seekor betina rata-rata menghasilkan 288 butir telur, meskipun dapat menghasilkan hampir dua kali lipat dari jumlah itu. Derajat pembuahan berkisar 30-100 %. Derajat penetasan 72,2% dan Sintasan (survival rate) Larva adalah 64,2%. Larva menetas sekitar 72-120 jam (3-5 hari) pada suhu air 29-30ÂșC.
Larva bersifat kanibal sehingga perlu perlindungan. Benih berusia 3 hari sudah mulai dapat makan udang artemia. Benih berusia satu bulan sudah dapat dideder di akuarium, dan satu bulan kemudian siap dideder di kolam. Ikan dengan ukuran 15cm siap untuk pembesaran.
Belida lebih aktif pada malam hari, dan mulai respon terhadap makanan pada sore hari. Hewan ini menyukai bagian gelap dari sungai, biasanya hidup di lubuk di bawah pepohonan.


Sumber:

Ratusan Warga di Pinggir Sungai Berantas Panen Ikan Mabuk


Di sepanjang pinggir Sungai Berantas kawasan Driyorejo hingga Karah dipadati warga sekitar. Gara-garanya, ikan-ikan yang hidup itu pingsan dan terdampar di pinggir sungai. Warga kemudian berebut ikan-ikan yang sedang mabuk itu.

Peristiwa ini terjadi sejak semalam mulai pukul 20.00 WIB, Senin (28/9/2009). Warga pun beramai-ramai mencebur ke sungai menangkap ikan-ikan itu. Baik naik sebuah ban bekas atau menjaring jala di pinggir sungai.

Warna air sungai yang kecoklatan dan kehitam-hitaman bukan halangan bagi warga berebut ikan. Arus sungai yang cukup deras juga dinilai bukan rintangan. Masyarakat yang berebut ikan pun bervariasi dan terdiri dari segala lapisan.

Selain warga sekitar baik tua dan muda, tukang becak, pencari cacing, pedagang kaki lima, pemulung, pengasong hingga PNS turut berdiri di sepanjang sungai. Banyak juga pengendara motor yang menghentikan kendaraannya dan ikut berebut ikan. Hingga pukul 09.30 WIB situasi di sepanjang Sungai Berantas makin ramai.

Di beberapa sudut tempat dipernuhi warga. Warga yang ingin mendapat ikan di pinggiran sungai terlihat membawa peralatan seadanya. Mereka menggunakan peralatan seadanya. Seperti membawa plastik berukuran besar, karung dan beberapa alat penggorengan. Beberapa warga tampak mudah mendapatkan ikan.

"Kapan lagi dapat ikan semudah ini kalau tidak munggutan (Ikan mabuk). Apalagi ikannya berada di pinggir-pinggir semua," kata salah satu warga yang membantu suaminya memasukkan ikan, Parni (36) kepada detiksurabaya.com di kawasan Jambangan, Selasa (29/9/2009).

Ikan-ikan yang pingsan itu antara lain ikan bader, ikan nila, ikan mas hingga ikan pembersih kaca. Ikan itu berukuran cukup besar, rata-rata setelapak tangan orang dewasa.

Bahkan sejumlah orang yang sudah mendapatkan ikan tampak menjual kembali ke warga atau pengendara motor yang berminat. Ikan Mujair berisi 5 berukuran sedang dijual dengan harga Rp 20 ribu. Tawar-menawar pun berlangsung.

"Lumayan kok ikannya meski ikannya berukuran sedang," kata salah seorang biker yang berhasil menawar dengan harga Rp 17.500, Arifin (41) warga Tawangsari, Sidoarjo.

Belum diketahui penyebab ikan-ikan mabuk tersebut. Namun hingga pukul 10.00 WIB ikan-ikan yang masuk itu berjalan ke arah timur atau menuju ke pintu air Gunungsari.(fat/fat)



Sepasang Lele Misterius Ditemukan di Gresik

Gresik - Warga Dusun Karang Malang, Desa Karang Semanding, Kecamatan Balong Panggang, Gresik, dikejutkan dengan penemuan 2 ikan lele bertubuh bungkuk. Kedua ikan itu ditemukan warga saat membersihkan lumpur sumur telaga.

Berbeda dengan ciri ikan lele pada umumnya, kedua ikan itu memiliki keunikan tersendiri. Di bagian ekor berkelok serta punggung membungkuk menyerupai sebilah keris.

"Warga sini menamakan lele bungkuk," kata Sulkan (52), salah seorang warga Dusun Karang Malang, Selasa (29/9/2009).


Pada awalnya, kedua ikan lele itu ditemukan dalam waktu berbeda. Selain membersihkan sumur telaga, warga juga mencari ikan. Ikan lele yang pertama, ditemukan Negro Purwono (24). Sedang ikan lele kedua ditemukan Suwanto (48).

Sulkan menambahkan, semula warga tidak menaruh perhatian terhadap ikan lele itu. Saat ikan lele pertama ditemukan, warga mencampur ikan itu dengan ikan lele lain, yang berbentuk normal. Namun setelah ikan lele yang sama ditemukan lagi, warga mulai was-was.


Ketakutan warga itu dikarenakan sumur tempat lele ditemukan berada di dekat gundukan tanah dengan sebatang pohon yang diyakini sebagai makam Mbah Bogo.(bdh/bdh)

Tamam Mubarrok - detikSurabaya
 

Pengikut

Slide

Loading...
Bagikan Bagikan
Top Fishing Websites at TopFishingSites.Com Add to Technorati Favorites Monitor link cyber-lake.com Top Fishing Sites

MANCING MANIA Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template